
Pak Madirun tampak begitu bahagia minggu-minggu ini. Wajahnya selalu tersenyum, rajin menyapa tetangganya dengan ramah dan ceria. Bagaimana tidak—hasil panen dari sawah seluas 2,2 hektar miliknya baru saja selesai dipanen dengan hasil yang sangat memuaskan. Khususnya, hasil dari lahan demoplot seluas 2.000 m² yang ditanaminya menggunakan metode pertanian berkelanjutan Sustainable Rice Platform (SRP).
Pak Madirun mengenal metode SRP ini dari Ibu Ida Rusmala, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Dempel, Kabupaten Ngawi, pada tahun 2025. Berbekal rasa ingin tahu, Pak Madirun ikut berpartisipasi dalam program RiceSilience yang dilaksanakan Gapoktan dan didampingi oleh Rikolto. Ia berkomitmen mencoba menerapkan metode SRP ke sebagian sawahnya—tidak banyak, hanya 2.000 m² dari total lahan 2,2 hektar.
Hasilnya? Di luar dugaan. Hasil panen lahan demoplot justru jauh lebih tinggi dibandingkan lahan konvensional.

"Saya senang dengan budidaya SRP ini. Untuk musim tanam selanjutnya, lahan sawah 2 hektar saya akan saya tanami dengan model jajar legowo seperti ini karena hasilnya bagus,"
Proyek RiceSilience yang diikuti Pak Madirun adalah hasil kerja sama Rikolto dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Preferred by Nature (PbN), dengan dukungan dari CISU (Civil Society in Development) Denmark. Proyek ini bertujuan memberdayakan komunitas petani padi di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui penerapan praktik produksi padi berkelanjutan berstandar SRP, sekaligus mengadvokasi pemerintah agar mengakui beras bersertifikat SRP sebagai 'beras spesial' yang layak mendapat harga premium.
Target proyek mencakup 1.800 petani padi skala kecil di 5 kabupaten, memperkuat 30 kelompok tani lokal dan 5 asosiasi petani, serta melatih 50 penyuluh pertanian lapangan—dengan potensi jangkauan tambahan hingga 4.000 petani melalui pelatihan berjenjang.


Rikolto mendampingi petani menerapkan budidaya padi berkelanjutan metode SRP di dua provinsi: Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, dan Sragen) dan Jawa Timur (Ngawi dan Madiun). Pengenalan proyek dilakukan melalui workshop Budidaya Beras SRP bersama Dinas Pertanian kabupaten terkait, memastikan kolaborasi yang solid antara Rikolto, Dinas Pertanian, PPL, Gapoktan, dan kelompok tani tingkat desa.


Demoplot didirikan dengan melibatkan PPL dan petani-petani kunci yang dilatih langsung oleh Rikolto, sehingga mereka dapat mentransfer pengetahuan kepada petani lainnya. Sekolah lapang dilaksanakan secara berkala dari persiapan tanam hingga panen bersama, memastikan petani memperoleh pendampingan penuh dalam mengaplikasikan praktik budidaya berkelanjutan.
Petani segera melihat potensi budidaya metode SRP: model tanam jajar legowo 2:1 dengan sistem sisipan memberikan lorong antar baris yang lebih lebar. Hasilnya? Sinar matahari dan sirkulasi udara maksimal untuk tanaman, mengurangi risiko serangan hama, mengoptimalkan ruang, dan mempermudah pemeliharaan sawah.
Tak hanya Pak Madirun—seluruh petani desa yang terlibat memperoleh hasil positif dari demoplot SRP mereka. Rikolto melakukan perbandingan menggunakan sampling ubinan di setiap kabupaten.
Hasilnya?
Sawah SRP menghasilkan panen rata-rata 27% lebih tinggi dibandingkan sawah konvensional.

Hasil positif ini disambut baik oleh setiap pihak—dari petani, pemerintah desa, pemerintah kabupaten, hingga Satgas Badan Pangan Provinsi (BPP) dan Dinas Pertanian. Keberhasilan ini diharapkan menjadi langkah awal penerapan budidaya padi berkelanjutan secara luas di 5 kabupaten.


"Kami sangat mendukung kegiatan pendampingan dari Rikolto untuk demoplot budidaya SRP dengan jajar legowo ini. Dari hasil panen hari ini, kami semua bahagia—dari awal proses pelatihan hingga hasilnya baik. Harapannya ke depan ini akan lebih banyak diterapkan oleh petani di Desa Dempel."
Hasil baik proyek RiceSilience direspons positif oleh berbagai pemangku kepentingan di kabupaten, membentuk sinergi yang berpihak pada petani:
• Kabupaten Ngawi kini memiliki kebijakan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan (PRLB) yang berlaku di seluruh area kabupaten.
• Di Kabupaten Sragen, hasil demoplot yang seragam dibeli oleh perusahaan benih untuk ditanam kembali—petani mendapat hargalebih tinggi karena kualitas panen yang baik.
• Di Kabupaten Klaten, proyek mendorong aktifnya kembali kelompok pemuda tani yang mendirikan Kelompok Tani Sinarganik. Mereka memperoleh bantuan drone untuk mendukung pemupukan dan penyemprotan pupuk organik di wilayah demoplot.
• Demoplot Kabupaten Boyolali menjadi lahan percontohan budidaya SRP dan menerima kunjungan dari instansi internasional seperti IRRI, KERA, The World Bank, PbN, dan Low Carbon Rice project.

Proyek RiceSilience akan dilanjutkan di tahun 2026 dengan memulai demoplot di desa-desa baru, namun masih di kabupaten yang sama, untuk memperluas budidaya beras berkelanjutan.
Tantangan akses pasar beras berkelanjutan masih menjadi tugas bersama setiap pemangku kepentingan di sektor beras. Dengan sinergi yang kuat, kita dapat mencapai kesejahteraan yang layak bagi petani sebagai produsen pangan terpenting di Indonesia.
