Sustainable Cocoa and Coffee

Dari Perantauan ke Perkebunan: Petani Muda Membawa Semangat Baru bagi Kakao Tanggamus

January 8, 2026
Citra Savitri
Communications Coordinator in Indonesia

Imam Black—begitu ia biasa dipanggil—tak pernah membayangkan akan kembali ke kampung halamannya di Tanggamus setelah lima tahun merantau di Surakarta, Jawa Tengah. Pekerjaan serabutan yang ia jalani membuatnya semakin sulit bertahan hidup, apalagi menabung untuk masa depan. . Berbekal keinginan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi diri dan keluarganya, Imam akhirnya memutuskan pulang ke Tanggamus, Lampung, pada tahun 2019.

Tanggamus merupakan sebuah kabupaten yang berjarak hampir empat jam perjalanan dari Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung. Wilayah ini berbatasan langsung denganTaman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kakao telah lama menjadi komoditas unggulan di wilayah ini. Namun, banyak tanaman kakao yang sudah menua dan semakin rentan terhadap hama serta penyakit yang kian sering muncul akibat perubahan iklim. Di sisi lain, sebagai wilayah yang berbatasan dengan kawasan konservasi, petani Tanggamus memiliki keterbatasan dalam memperluas lahan. Karena perambahan hutan dilarang, peningkatan produksi harus dilakukan melalui intensifikasi yang berkelanjutan.

Proyek CCAM: memperkuat petani kakao di Tanggamus

Proyek Climate-Smart Cocoa Farming among Smallholders for Ecosystem-Based Adaptation (CCAM) hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Proyek ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani, melalui pengenalan praktik agroforestri cerdas iklim yang mendukung ekosistem lokal. Selain itu, CCAM juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan dan orang muda di sektor pertanian dan perkebunan. Didanai oleh CISU dan dijalankan oleh Rikolto bersama Preferred by Nature (PbN), proyek ini menargetkan 3.000 petani kakao serta 500 perempuan dan orang muda di Lampung.

Bagi Imam, kehadiran proyek CCAM menjadi sebuah titik balik. Sepulang dari perantauan, ia sempat bekerja sebagai ojek hasil bumi. Mengandalkan sepeda motor, Imam mengantarkan hasil panen petani di desanya ke berbagai daerah di Lampung.

Namun, ia menyadari bahwa penghasilan sebagai ojek hasil bumi memiliki keterbatasan. Ia pun melihat peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik dengan terjun langsung sebagai petani—terlebih karena ia memiliki kerabat yang mempunyai lahan dan menawarkan kerja sama dengan sistem bagi hasil. Tantangannya, Imam sama sekali belum memiliki pengetahuan tentang budidaya kakao.

Keputusan untuk bergabung dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Lantana menjadi langkah penting bagi Imam. Sebagai mitra binaan Rikolto melalui program CCAM, KTH Lantana menerima pelatihan tentang praktik berkelanjutan yang diterapkan dalam budidaya kakao. Sebagai petani muda yang baru belajar, Imam langsung menerapkan pengetahuan yang ia peroleh di kebunnya sendiri. Dukungan dari sesama anggota kelompok memotivasinya untuk terus belajar dan mengembangkan usahanya.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Pohon kakao yang dikelola Imam perlahan mulai menghasilkan. Meski sebagian tanaman di lahannya masih dalam proses peremajaan, pada 2025 Imam telah memperoleh penghasilan sebesar Rp12.000.000 (sekitar USD 720) dari penjualan biji kakao setengah basah dari lahan sebesar 0.8 hektar, di tengah kondisi harga kakao yang sedang menurun. Pendapatannya berpotensi lebih besar ketika nanti kebun kakao yang digarap Imam telah sepenuhnya produktif dan didukung dengan pengelolaan pasca panen yang lebih baik.

Imam bukan satu-satunya petani muda di kelompoknya. Perkembangan global dalam industri kakao mendorong semakin banyak orang muda dari Tanggamus untuk kembali ke kampung halaman dan menekuni pertanian. Berbekal pengalaman bekerja di luar daerah serta kemauan kuat untuk terus belajar, para petani muda ini mulai menjadi penggerak perubahan di tingkat lokal.

“Di KTH Lantana, mayoritas anggotanya masih berasal dari generasi petani sebelumnya yang telah puluhan tahun menanam kakao dengan metode tradisional dan mungkin memiliki keraguan untuk beradaptasi dengan praktik baru. Namun, dengan bergabungnya petani generasi muda seperti Imam—yang bersemangat belajar dan berani mengadopsi praktik baru dalam berbudidaya kakao —kami yang lebih tua ikut termotivasi untuk mencoba dan mempelajari inovasi-inovasi baru,”

Eri, Ketua KTH Lantana

Bibit unggul sebagai unit usaha pendukung

Selain meningkatkan praktik budidaya, KTH Lantana juga mulai merintis usaha penjualan bibit kakao varietas MCC02 yang lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Dengan dukungan CCAM, bibit ini dikembangkan secara kolektif menjadi salah satu unit usaha KTH Lantana. Untuk menjalankan usaha ini, anggota kelompok menyewa lahan desa untuk mendirikan rumah kaca dan memanfaatkan lahan kosong atau halaman rumah ketika lahan utama tidak mencukupi.

Bibit dijual secara langsung maupun melalui agen lokal, dengan pembeli dari berbagai kabupaten di Lampung hingga Sumatera Selatan, sehingga memberikan tambahan penghasilan di luar musim panen.

No items found.

Petani muda membangun jejaring baru lewat media sosial

Peran petani muda juga terlihat dalam pemanfaatan media sosial. Melalui platform daring, petani di Tanggamus kini dapat terhubung dengan sesama petani kakao di berbagai wilayah, bahkan lintas negara. Secara rutin, Imam membagikan video pendek tentang aktivitas bertani kakao di akun Facebook miliknya. Saat ini, ia memiliki hampir 7.000 pengikut, termasuk seorang pengikut asal Kamerun di Afrika.

Dengan bantuan Google Translate, Imam dan pengikutnya bertukar pandangan tentang praktik pertanian kakao regeneratif yang diterapkan di KTH Lantana, sekaligus membandingkannya dengan sistem pertanian monokultur di Kamerun. KTH Lantana pun kini memiliki akun Instagram sebagai sarana berbagi pembaruan kegiatan dan mempromosikan produk-produk kelompok, sekaligus menginspirasi kelompok tani hutan lain, khususnya di Sumatera.

Lalu, apa kesan Imam setelah menekuni pertanian kakao selama dua tahun terakhir?

“Menurut saya, bertani itu sangat menyenangkan. Anggapan bahwa bertani itu kotor atau merupakan pekerjaan orang pinggiran adalah salah besar. Jika dilakukan dengan baik, bertani bisa memberikan kepuasan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain,”

Dummy image

Latest stories from the ground

Discover more stories