Good Food for Cities

Menurunkan Panas Kota, Menguatkan Pangan Sehat: Refleksi dan pembelajaran proyek pertanian kota di Depok

January 20, 2026
Nonie Kaban
Good Food for Cities Programme Director in Southeast Asia / Good Food for Cities Programme Manager in Indonesia
Citra Savitri
Communications Coordinator in Indonesia

Pada tahun 2022, Rikolto di Indonesia meluncurkan proyek “Lowering the heat, feeding citizens, scaling up a circular model for urban agriculture in Depok City, Indonesia” (“Menurunkan suhu kota, memberi makan warga, dan memperluas model sirkuler untuk pertanian perkotaan di Kota Depok, Indonesia”).

Sejak awal, proyek ini tidak dimaksudkan sekadar untuk mengajak warga kota menanam sayur. Proyek ini memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu menguji apakah pertanian perkotaan dapat menjadi solusi untuk menurunkan panas perkotaan—yang sering disebut sebagai fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island), saat kota menjadi lebih panas dibandingkan area sekitarnya—sekaligus membuka akses yang berkelanjutan terhadap pangan sehat bagi warga kota. Keduanya merupakan tantangan yang sangat nyata, terutama di tengah dampak perubahan iklim yang semakin terasa di wilayah perkotaan.

Untuk menjalankan proyek tahap pilot ini, Rikolto bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB). Kolaborasi ini menjadi kunci keberhasilan, karena pertanian perkotaan membutuhkan dua hal sekaligus: landasan ilmiah yang kuat dan pendampingan yang membumi di tingkat komunitas.


Dari “hobi” menjadi keterampilan yang serius

Dalam pelaksanaan proyek ini, Rikolto melibatkan enam kelompok pertanian perkotaan di Kota Depok, Jawa Barat. Kelompok-kelompok ini bukanlah petani profesional seperti yang umumnya ditemui di wilayah perdesaan—yang biasanya telah bertani selama puluhan tahun atau berasal dari keluarga petani. Anggota kelompok pertanian perkotaan ini adalah warga kota, seperti pekerja, ibu rumah tangga, dan penggerak komunitas. Mereka mulai berkebun karena berbagai alasan: ketertarikan pribadi, keinginan mengakses pangan sehat, atau sekadar mencoba hal baru. Tingkat keawaman inilah yang kemudian mewarnai proses implementasi proyek, terutama pada tahap awal pelaksanaannya.


Saya masih mengingat dengan jelas ketika Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., yang akrab disapa Prof. Suryo, menyampaikan refleksi yang sangat jujur pada masa awal proyek. Saat itu, sebagian besar kelompok dampingan masih memandang pertanian perkotaan sebagai sebuah hobi—kegiatan yang dilakukan ketika ada waktu luang, dan belum diarahkan pada tujuan yang produktif.

Kecenderungan ini terlihat jelas dari reaksi mereka ketika tanaman cabai terserang hama. Para anggota kelompok enggan memusnahkan tanaman yang terinfeksi karena merasa sayang. Padahal, hama dapat dengan mudah menular ke tanaman produktif lainnya, dan salah satu cara paling efektif untuk menghentikan penyebarannya adalah dengan memusnahkan tanaman yang sudah terinfeksi.

Namun, itu terjadi tiga tahun lalu. Saat ini, perubahan terasa sangat nyata. Saat kami mengunjungi lokasi-lokasi pertanian yang dikelola oleh kelompok dampingan, yang terlihat bukan lagi sekadar lahan percontohan. Hampir seluruh lahan tampak terawat, produktif, dan terus berkembang. Lahan-lahan pertanian tersebut menerapkan pola tanam yang semakin tertata, dan terlihat jelas bahwa pengambilan keputusan dalam praktik budidaya sudah dilakukan dengan lebih berani dan matang.

Kebun yang “tidak terlihat” dari jalan besar—namun dampaknya nyata

Salah satu contoh yang paling membekas bagi saya adalah kelompok dampingan KWT Sosial 3. Awalnya, mereka memulai kegiatan dari satu demo plot pertanian perkotaan. Kini, mereka telah mengelola lahan di empat lokasi berbeda di Kota Depok. Menariknya, salah satu lahan yang dikelola KWT Sosial 3 seolah “tersembunyi”. Lokasinya tidak jauh dari jalan besar, namun masyarakat yang melintas hampir tidak menyadari keberadaan lahan pertanian kota di sana. Untuk mencapainya, orang harus masuk melalui sebuah gang kecil yang diapit deretan rumah petak khas perkotaan.

Namun, setibanya di ujung gang, pemandangan langsung berubah. Tanaman cabai tumbuh berderet rapi di satu sisi, sementara tanaman terung memenuhi sisi lainnya. Di bagian tengah, terdapat petak-petak berisi berbagai jenis sayuran. Di lokasi yang sama, KWT Sosial 3 juga menjalankan pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot di salah satu sudut lahan. Lahan ini bukan sekadar kebun, melainkan sebuah ekosistem kecil yang saling terhubung.

Di lokasi lahan KWT Demangan, salah satu kelompok pertanian perkotaan dampingan lainnya, para anggota tidak hanya menanam sayuran dan cabai. Mereka juga menanam tanaman buah seperti alpukat dan belimbing, sehingga menambah keragaman hasil panen. Keragaman ini penting karena pada kenyataannya sistem pangan perkotaan tidak dapat bergantung pada satu komoditas saja. Selain itu, kota juga memerlukan ruang hijau yang memiliki fungsi ekologis.

Dummy image

Panen yang tidak hanya dipetik, tetapi dinikmati bersama

Kunjungan kami ke lokasi KWT Sejahtera menjadi pengalaman yang memotivasi dan menginspirasi. Setibanya di sana, kami dijamu dengan hidangan yang berasal dari hasil panen mereka sendiri—mulai dari ikan , lalapan dengan sambal terong, sayur asam, hingga asinan buah dan alpukat segar. Momen jamuan tersebut mungkin sederhana, namun menanamkan pesan yang kuat bagi kami: ketahanan pangan di perkotaan dapat dicapai. Pertanian perkotaan mampu tumbuh di celah-celah kota, bahkan di lahan-lahan yang tampak tidak “ideal”, seperti lahan bekas buangan bahan bangunan, bantaran sungai, lahan kosong yang tidak terpakai, maupun sudut-sudut gang. Justru di situlah letak nilai terpenting dari pertanian perkotaan.

Yang tak kalah penting, pertanian perkotaan ini juga dijalankan dengan pendekatan berkelanjutan, tanpa penggunaan bahan kimia dan pestisida. Hal ini dilakukan karena tujuan akhir yang ingin dicapai bukan sekadar menghasilkan panen, tetapi juga menjaga kesehatan warga dan lingkungan.

No items found.

Data yang menguatkan keyakinan warga: pertanian perkotaan dan efek pendinginan kota

Lalu, apa hubungan antara pertanian perkotaan dan iklim? Dukungan IPB dalam proyek ini memberikan bukti ilmiah bahwa urban farming bukan sekadar “gerakan hijau”, melainkan memiliki dampak nyata terhadap iklim.

Dr. Idung Risdiyanto, dosen dan peneliti di Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB, melakukan penelitian di enam lokasi demoplot selama tiga tahun pelaksanaan proyek. Salah satu temuan yang sangat positif adalah potensi kontribusi penyerapan karbon sebesar 24,9 ton CO₂e per tahun per hektar, yang terjadi melalui proses fotosintesis tanaman. Temuan ini kemudian dibagikan kepada kelompok dampingan, dan menjadi sumber motivasi tersendiri bagi para anggota. Mereka menyadari bahwa praktik pertanian perkotaan yang mereka jalankan tidak hanya bermanfaat bagi pangan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi iklim serta berkontribusi pada penurunan risiko kesehatan bagi warga di sekitarnya.

Mengapa angka kontribusi penyerapan karbon tersebut bisa begitu besar? Kegiatan pertanian perkotaan memengaruhi dinamika suhu udara harian melalui beberapa mekanisme yang sederhana, namun berdampak:

  • Daun tanaman menyaring sinar matahari, sehingga mengurangi intensitas panas yang mencapai permukaan tanah.
  • Proses evapotranspirasi (pelepasan uap air dari tanaman) menciptakan efek pendinginan di sekitar area kebun.
  • Kelembapan udara meningkat, yang membantu menstabilkan fluktuasi suhu harian.
  • Tanaman memiliki “ketahanan termal” yang membuat perubahan suhu berlangsung lebih lambat dibandingkan permukaan keras seperti beton.
  • Tutupan tanaman juga mengubah cara permukaan menyerap panas, sehingga membantu mengurangi ekstrem suhu antara siang dan malam.

Pada intinya, pertanian perkotaan dapat berfungsi sebagai pendingin mikro di lingkungan hunian padat seperti Depok. Peran ini membantu mengurangi fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island atau UHI) sekaligus memperkuat proses adaptasi Kota Depok terhadap perubahan iklim.

Bermitra dengan organisasi lokal yang tepat sebagai penentu keberhasilan

Dalam pelaksanaan proyek semacam ini, “bertani” bukan sekadar soal memilih benih yang tepat dan mengolah lahan. Berbagai keputusan teknis perlu diambil sepanjang proses, mulai dari cara mengolah tanah, mengatasi hama, memilih varietas yang sesuai, membaca kondisi cuaca, hingga menjaga keberlanjutan lahan dalam jangka panjang.

Di sinilah kemitraan dengan IPB berperan besar. Kolaborasi ini memberikan kelompok dampingan kesempatan untuk belajar dari sumber yang terpercaya, bukan sekadar meniru praktik atau tren dari media sosial yang belum tentu sesuai dengan konteks lahan perkotaan. Pelatihan dan pendampingan dari IPB membantu memastikan praktik budidaya yang dijalankan lebih tepat sasaran, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri kelompok dampingan dalam mengambil keputusan.

Sementara itu, Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB) hadir sebagai mitra lokal yang memiliki kedekatan dengan warga. Mereka berinteraksi dan mendampingi komunitas dalam keseharian, mendengarkan keluhan, berdialog dari hati ke hati, serta membantu mencari solusi yang realistis dan dapat diterapkan. Salah satu hasil terpenting dari proses pendampingan yang dilakukan PIB adalah Dasmap—sebuah peta kota yang mengidentifikasi lokasi-lokasi pertanian perkotaan di Depok, inisiatif berbagi pangan, serta pengelolaan sampah.

Hingga saat ini, Dasmap telah mengidentifikasi 147 kelompok tani/KWT/Pokdakan, 80 komunitas pertanian perkotaan, 46 unit pengolahan sampah milik pemerintah, dan 11 unit pengolahan sampah nonpemerintah, serta 9 lokasi edukasi pangan dan pertanian, 18 kios pangan sehat, dan berbagai lokasi inisiatif berbagi pangan. Peta ini menjadi sumber data yang penting, khususnya bagi Pemerintah Kota Depok, karena kebijakan perkotaan yang baik dan tepat membutuhkan landasan data dan arah yang jelas—bukan hanya semangat.

Dummy image

Urban Farming sebagai investasi strategis bagi kota

Berdasarkan hasil proyek, perkembangan komunitas yang terlibat, serta bukti-bukti manfaat yang dihasilkan, pertanian perkotaan layak mendapat perhatian yang lebih serius. Bukan hanya sebagai kegiatan tambahan bagi masyarakat, melainkan sebagai bagian dari strategi kota dalam menghadapi panas ekstrem, krisis iklim, dan kerentanan pangan.

Jika Kota Depok ingin meningkatkan ketangguhannya dalam menjamin ketersediaan pangan sekaligus melindungi warganya dari dampak panas ekstrem, maka dukungan kebijakan dan alokasi anggaran yang memadai untuk pengembangan pertanian perkotaan menjadi sangat penting. Sudah saatnya pertanian perkotaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai “program lingkungan”, melainkan sebagai investasi strategis dalam menghadapi perubahan iklim.

Seperti pesan Dr. Idung dalam acara diseminasi proyek yang diselenggarakan pada 15 Desember 2025 lalu: mari menanam. Karena dari satu tanaman, kita tidak hanya memanen sayuran untuk dikonsumsi, tetapi juga membangun kota yang lebih sejuk, lebih sehat,  dan lebih siap menghadapi tekanan iklim dan pangan di masa depan.

Cek tautan di bawah ini untuk informasi lebih lanjut mengenai proyek Urban Heat Island (UHI):

https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/12/urban-farming-ekologis-ipb-university-terbukti-turunkan-suhu-kota-dan-perkuat-pangan-perkotaan/

https://esgnow.republika.co.id/berita/t7adk2416/riset-ipb-ungkap-pertanian-kota-mampu-serap-karbon-setara-hutan-hujan-tropis

https://lestari.kompas.com/read/2026/01/01/202828986/urban-farming-bisa-turunkan-suhu-kota-ini-hasil-riset-ipb

Latest stories from the ground

Discover more stories